BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

WANITA PECINTA

10/03/2009 14:15:03


Wanita itu menunduk dalam, mempersilahkan saya dengan sangat sopan. Kecantikannya tak tertutupi oleh bulir-bulir keringat yang deras mengaliri wajahnya. Tidak terusik pula ia oleh matahari yang memendar tajam, mencoba melegamkan kulitnya. Tangan kokohnya malah melepas caping dan digantungkan di batang cangkul yang terhaluskan oleh genggam tangannya sejak lama. Masih dengan sangat sopan, kemudian ia bercerita cerdas tentang tanah persawahan, irigasi, padi hibrida, komposisi pupuk, pemasaran beras, mekanisme bagi hasil, bahkan tentang kesejahteraan petani. Tersentak sadar, ia buru-buru mencari tempat teduh dan mengajak saya berlindung. Di tanah pasundan yang sering dikenali karena kecantikan gadis-gadisnya, hari itu saya temukan lagi sebuah kecantikan. Kali ini, kecantikan itu menyatu indah dengan caping, cangkul dan sendal penuh lumpur. Tanpa setitikpun ekspresi menderita, ia teruskan ceritanya tentang siklus panen yang tak selalu berbuah manis. Tanpa setitikpun ekspresi iri, ia juga bercerita tentang pemilik tanah yang di awal musim tanam sudah menerima uang sewa darinya dan 8 wanita teman seperjuangannya. Tanpa setitikpun ekspresi narsis, ia juga bercerita tentang betapa ia sudah berkontribusi demi penghidupan keluarga yang lebih baik.
Saya tidak mampu menahan diri untuk bertanya tentang hal-hal yang ingin diraihnya dengan mengayun cangkul di tengah pria-pria yang selalu saja diasumsikan lebih perkasa. Wanita itu semakin agung dimata saya, ketika ia menjawab sederhana,”biar ibu-ibu yang lain juga ikutan nggak malu jadi petani”. Pasti keagungan seperti ini yang menginspirasi Daniel Thorner ketika mendefinisikan perekonomian pertanian sebagai ekonomi agrikultural dimana para produsen (petani)nya tidak hanya mampu menghidupi dirinya sendiri, tapi juga mampu berkontribusi terhadap lingkungannya maupun para penghuni kota. Bukankah wanita ini tidak hanya mencoba menghidupi diri, tapi juga telah berhasil (sampai saat saya bertemu dengannya) mengajak 8 wanita lainnya untuk berkontribusi terhadap perekonomian keluarganya? Bukankah ia belum cukup lelah untuk mendatangi semua pertemuan PKK di desanya dan di desa-desa sekitarnya demi berkata bahwa tanah ini siap disuburkan dengan kucuran keringat, tanpa peduli apakah keringat itu mengucur dari dahi wanita atau pria? Bukankah padi hasil panenannya seluruhnya didistribusikan ke kota, sementara ia tetap memakan nasi dari padi-padi kelas dua?
Meski tak selalu cerita indah, ada kilau dimatanya ketika bercerita tentang tanah-tanah yang telah dicangkulinya. Kilau yang tak sebenderang permata, mungkin. Tapi kilau itulah yang kira-kira membuat para pendiri bangsa ini menyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris. Negara yang meletakkan tanahnya dalam buaian puji dan puja. Negara yang telah mengubangi tanahnya dengan darah para pahlawan dan keringat para pejuang. Negara yang meletakkan tanahnya sedemikian mulia hingga ketika baris lagu “tanah air” digemakan tak seorangpun mampu menolak belaian haru.
Tapi, mungkin tidak bagi wanita itu. Ia mencintai tanah ini dengan keringatnya, bukan dengan puji-puja. Ia mencintai tanah ini dengan ayunan cangkul, tidak dengan baris-baris lagu. Ia mencintai tanah ini dengan selalu menyapa ramah ibu pertiwi, dan tak juga lupa selalu membungkuk hormat pada pemilik tanah yang telah mengijinkan tanahnya untuk disewa: untuk dihijaukan olehnya. Untuk disuburkan olehnya. Untuk dijadikan sumberdaya yang berkelanjutan. Olehnya pula.
Sungguh, ia tulus mencintai tanah ini. Anda?