The Last Samurai, Warna dan Rakyat Indonesia
27/01/2009 18:49:24
Di sejuknya lereng gunung yang menaungi sebuah desa bagi para ksatria, hari itu tak terlihat senyum ceria. Derap lalu-lalang kuda seperti menambah kencang genderang perang yang berdentum mengguncang desa. Di sebuah rumah, seakan tak mendengar teriak lantang sang dewa perang, seorang pria termangu bimbang. Janda dari ksatria yang telah dibunuhnya di medan laga, tulus menawarkan seragam perang sang mendiang suami. Karena sang janda sadar, pria itu sebenarnya tidak pernah menjadi musuh suaminya. Pria itu –sama seperti mendiang suaminya- hanyalah abdi dari rasa cinta untuk negerinya, dimana untuk itu ia diberikan kehormatan untuk mengenakan seragam. Dan untuk rasa cinta yang sama, akhirnya pria itu mengenakan seragam perang seorang ksatria yang telah dibunuhnya.
Jika anda penikmat film, anda pasti akan mengenali potongan cerita film “The Last Samurai” itu. Tak bisa disangkal, “The Last Samurai” adalah film indah yang sarat filosofi. Seragam perang itu bahkan bisa bercerita sendiri tentang filosofinya, tanpa perlu bantuan tokoh dalam film itu untuk menceritakannya.
Kekaisaran Romawi yang ditengarai sebagai organisasi pertama yang mewajibkan pemakaian seragam, pasti juga memiliki filosofi suci yang membuat sang Kaisar memutuskan pemakaian seragam serdadu pada tiap penaklukan yang dilakukan. Apakah para kompetitornya juga merasa perlu untuk mengetahui filosofi di balik seragam romawi? Mungkin ya, mungkin tidak. Yang pasti, seragam itu sudah menebar ribuan pemikiran untuk tidak menantang perang para pemakainya. Jadi, apakah seragam memang selalu representasi dari penebaran rasa takut? Sebuah majalah pria dewasa terbitan Amerika pasti akan menolaknya. Tercatat pada United States Patent and Trademark Office, seragam kelinci sebagai ikon majalah itu, dengan nomor paten 762884. Seperti yang diketahui oleh banyak pembacanya, tak sedikitpun rasa takut ditebar dari majalah itu. Tapi mengapa kelinci?Apakah para pembacanya merasa perlu untuk mengetahui filosofi dibalik seragam kelinci itu? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi sepertinya gambar kepala kelinci di ujung atas majalah itu sudah cukup menjadi daya tarik bagi mereka untuk menarik beberapa lembar dollar dari sakunya.
Tidak selalu berupa pakaian, warna juga seringkali dijadikan ujung tombak penancapan kesan. Nyala merah yang liar selalu menjadi milik sebuah mobil supercepat, yang diperkuat dengan jingkrak kuda di penutup mesin penuh ototnya. Warna oranye yang memberikan kesan segar, jika dipadu dengan dominasi warna hitam secara otomatis akan mengingatkan kita pada gelegar motor Amerika yang sedemikian unik, karena mampu menjadi simbol anti kemapanan dan kemapanan itu sendiri dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana dengan warna abu-abu?milik siapakah warna netral ini?
Seperti yang sering terlihat, warna abu-abu banyak mendominasi barang-barang produk teknologi sekaligus juga benda-benda alam semesta. Batu-batu abu-abu yang berjajar nyaman di taman akan terlihat berbaur dengan notebook quadcore yang seringkali juga dilapisi dengan warna abu-abu. Di sisi taman yang tidak berrumput, tanah yang merah kecoklatan juga akan akrab memeluk tiang alumunium abu-abu yang diujungnya membulat sebuah media cahaya, memendarkan sinar kuning keemasan. Putihnya bunga, hijaunya daun-daun dan segala warna kupu-kupu akan terbaur indah di tengah netralnya abu-abu batu besar yang separuhnya terendam alir sungai, dimana alirnya tetap tak mampu membiaskan warnanya.
Jadi mungkin saja, warna abu-abu yang dipilih menjadi warna seragam kita juga menangkap filosofi itu. Filosofi kemampuan berbaur dengan warna lain tanpa terbiaskan, mungkin juga diinginkan agar kita menjadi sepertinya. Agar kita tetap mampu berbaur dengan seluruh rakyat Indonesia tanpa membuat bias atas fakta bahwa kita adalah abdinya, hingga rakyat Indonesia mau meletakkan kepercayaannya di pundak kita untuk bersama-sama terus dibangun dan dijaga.
Agar rakyat Indonesia turut bersaksi, bahwa seragam bukan representasi dari alienasi, tapi justru sebuah media perkenalan diri bahwa kita adalah pengabdi.
Untuk mereka. Untuk Indonesia.