BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

THE FLOWER GENERATION, ANDREW FEENBERG DAN KANCING BAJU

14/01/2009 20:05:29

Dalam pergerakan kebudayaan (sejauh yang saya tahu), akan sulit mencari pembanding dari revolusi yang digelorakan oleh the flower generation pada tahun 60-an; sebuah gerakan kebudayaan yang mampu mempengaruhi hampir seluruh pelosok dunia. Tapi jika ia memang perlu pembanding, saya akan mengajukan komputer sebagai pembandingnya. Meski evolutif, tapi pengaruhnya mungkin jauh lebih luas daripada gerakan the flower generation. Pelan-pelan, komputer memproklamirkan terintegrasinya kehidupan manusia dengan mesin. Sejak proklamasi itu, komputer dengan segala kecanggihannya terus saja menawarkan hal-hal baru kepada peradaban dunia.
 
Tawaran akan hal-hal baru itu pula, yang mengarahkan langkah saya menuju sebuah workshop dengan beberapa penyedia layanan Information Technology (IT) , dimana saya mendapati diri saya termangu takjub pada sesi-sesi presentasi dalam workshop itu. Saya tersentak menyadari betapa lamanya saya tidak terhubung lagi dengan kemajuan-kemajuan yang ditawarkan oleh IT. Saya kemudian juga menyadari betapa skema-skema pembaruan peradaban sebenarnya sudah dengan luas terhampar, tinggal memilih dan menyesuaikannya saja dengan kebutuhan kita.
 
Saya hentikan penggalian memori di kepala saya tentang IT untuk sekedar bisa mengerti apa yang mereka presentasikan, karena presentasi berikutnya adalah mengenai e-governance. Saya rapikan baju, menegakkan posisi duduk dan membasahi kembali kerongkongan yang sejak awal workshop tidak bekerja karena tidak ada satupun ide yang bisa saya katakan dalam konteks ini. Saya hampir yakin bahwa saya akhirnya bisa menjadi bagian dari diskusi ini, ketika sang presenter menjelaskan aspek-aspek pembangun e-governance. Ia bilang, selain harware dan software, sumberdaya manusia adalah aspek krusial untuk selalu dikembangkan pengetahuannya. Sayangnya, presentasi kemudian dilanjutkan oleh seseorang yang kembali sangat fokus pada harware dan software. Saya menunggu presentasi kembali mendiskusikan e-governance, hanya untuk menyampaikan opini Andrew Feenberg yang sudah sempat meluangkan waktunya untuk mencermati, bahwa terdapat implikasi sosial dari perkembangan IT, yaitu “CONSERVATION OF HIERARCHY” dan “SUBVERSIVE RATIONALISM”. Menurutnya, CONSERVATION OF HIERARCHY lebih memilih untuk melakukan konservasi atas hirarki yang berlaku (baik hirarki sosial maupun birokrasional) dimana teknologi informasi diimplementasikan. Pendekatan ini sering digunakan oleh manajemen organisasi untuk memperkuat mekanisme kontrol dalam dirinya. Mekanisme ini -meski sering dituding sebagai bentuk lain otoritarian- banyak dipakai karena potensi perusakan hirarkinya relatif rendah. Di sisi lain, SUBVERSIVE RATIONALISM meyakini bahwa IT harus membuka ruang perubahan bagi hirarki-hirarki yang ada menjadi lebih demokratis, dimana ruang tersebut bisa dipergunakan untuk pengembangan kapasitas pekerja sekaligus penyelarasan arah berpikir para pemikir. Dalam dikotomi ini, dimanakah e-governance yang dipresentasikan itu berada?pada implikasi yang pertama, kedua, atau di keduanya? Atas identifikasi itu, tidakkah minimalisasi dampaknya harus juga diintegrasikan dalam cetak biru pengaplikasian e-governance? Saya mulai menghitung kancing baju untuk memilih, apakah pertanyaan ini akan saya ajukan kepada para penyedia layanan IT dalam workshop itu, atau kepada diri saya sendiri. Di tengah penghitungan kancing baju itu, seorang wanita cantik peserta workshop yang duduk di samping saya mengulurkan tangan, memberikan kartu namanya.
 
Seperti yang bisa anda tebak dengan mudah, saya sudah melupakan penghitungan kancing baju. Saya bahkan sudah melupakan mengapa saya harus menghitung kancing baju saya sendiri, sampai wanita cantik itu tersenyum geli sambil bertanya,”mengapa kancing bajunya dihitung?”
 
Karena sudah kehabisan ide untuk membuatnya terkesan, akhirnya saya sampaikan juga pertanyaan saya, lengkap dengan opini Andrew Feenberg yang mendasari pertanyaan itu. Ia terdiam sebentar, melintangkan telunjuk di garis bibirnya, meneguk sedikit air, menghela nafas dan menyatakan penyesalannya,”sorry, aku tidak punya cukup pengetahuan buat jawab pertanyaan itu”.
 
Tidak punya cukup pengetahuan? Dalam beberapa detik saja, ia mampu membuat saya sadar, bahwa saya juga tidak punya cukup pengetahuan untuk menjawab pertanyaan itu. Payahnya, kesadaran itu memunculkan kesadaran lain bahwa saya tidak punya ide tentang kepada siapa pertanyaan itu harus saya ajukan.

 
Any idea, ladies and gentlemen?