ORGANISASI, RADEN SAHID DAN IEDUL FITRI
20/09/2009 10:33:03
Saya tidak tahu mengapa sebuah artikel meletakkan Perang Dunia I sebagai tonggak dimulainya analisis-analisis tentang bagaimana faktor-faktor manusia dan psikologinya mempengaruhi organisasi. Artikel itu juga menyebutkan bahwa sejak itu, analisis-analisis organisasional lebih dipusatkan pada motivasi dan aktualisasi tujuan-tujuan anggota organisasi. Perang Dunia II bahkan menghasilkan perkembangan lebih lanjut dengan memperkenalkan pendekatan antropologi dan sosiologi dalam menganalisa sebuah organisasi. Artikel yang penuh dengan istilah asing itu sedemikian memusingkan, sehingga saya harus meneruskannya kepada seorang teman yang akhirnya mampu membuat kesimpulan sederhana atas artikel itu: Organisasi harus dapat mengakomodasi pilihan rasional anggotanya. Saya bertambah bingung mendengar kesimpulan itu. Tidakkah seharusnya anggota organisasi yang harus mengakomodasi pilihan rasional organisasinya?
Seperti tidak peduli dengan keingintahuan saya, ia tidak menjawab, memakai kembali kopiahnya dan malah bercerita tentang Raden Sahid. Saya mencibir dan menuduhnya mengalihkan topik karena tidak mampu menjelaskan pertanyaan saya. Teman saya tersenyum dan terus bercerita bahwa Raden Sahid adalah seorang seniman yang memilih kefakiran sebagai tangga menuju kebersihan jiwa. Menolak kebangsawanan yang ditempeli privilege untuk memberi instruksi dan memilih untuk nembang (menyanyikan syair dalam tangga nada tradisional jawa) atau ndalang (memimpin pagelaran wayang kulit) atas keinginan untuk memberi inspirasi. Memilih membungkus segala bentuk kebenaran universal dengan pesona kedaerahan hingga bisa menyatu harmonis di semua norma. Memilih berhenti bersedekah dari hasil merampok, atas kesadaran bahwa proses adalah sama mulianya dengan tujuan. Memilih mengembara mewartakan agama tanpa berhasrat menancapkan nama.
Jika agama adalah salah satu bentuk organisasi, apakah pilihan-pilihan sang Raden itu dapat diakomodasi? Saya tersenyum kecut dan dengan sadar menarik kembali tuduhan saya. Saya bahkan merasa malu karena tak mampu mengidentifikasi Raden Sahid sebagai Sunan Kalijogo sampai teman saya menyinggung tentang agama. Ia kemudian menunjukkan korelasi antara pernyataannya bahwa organisasi harus dapat mengakomodasi pilihan rasional anggotanya dengan pilihan-pilihan hidup sang sunan. Islam jelas sudah mengakomodasi pilihan-pilihan rasional sang sunan, dimana atas pengakomodasian itu sejarah kemudian mencatatkan dominasi pemeluk Islam di tanah-tanah yang dijejak oleh sang sunan. Atas pilihan rasional sang sunan itu pula, Islam kemudian mengibarkan reputasi sebagai agama yang santun dan merakyat. Kesantunan yang jelas tergambar dari permohonan sang sunan ketika seorang Adipati di wilayah Semarang menawarkan imbalan atas pertunjukan wayang kulit yang ia titahkan kepada sang sunan untuk digelar: memohon untuk diijinkan mendengar suara bedug masjid di Semarang. Apakah pilihan sang sunan untuk mendengar suara bedug sebagai imbalan pagelaran wayang yang beliau gelar adalah rasional? Dan jika pilihan itu rasional, apakah agama Islam mampu mengakomodasinya? Tentu saja ya.
Berkat sang sunan, sejarah bisa bersaksi bahwa agama juga bisa menyentuh dengan hangat. Begitu pula seharusnya sebuah organisasi; harus selalu mampu menyentuh anggota-anggotanya dengan hangat. Karena organisasi tidak hanya terdiri dari rangkaian tugas dan fungsi, tetapi juga kumpulan berbagai kehangatan pribadi. Pribadi-pribadi inilah yang akan menjadi duta organisasi, sebagaimana sang sunan menjadi representasi perilaku Islami.
Pribadi-pribadi ini pula yang akan mengetuk hati, menyentuh hangat para pemangku kepentingan organisasinya dan berhadapan ramah sebagai sesama manusia yang dosa dan alpanya adalah niscaya.
Selamat Hari Raya Iedul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.