BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

John Maynard Keynes, Iregularitas dan Kewajaran

25/02/2009 12:37:41

Washington DC, hampir 80 tahun yang lalu, John Maynard Keynes melempar berlembar-lembar handuk di tengah ceramah seriusnya. Tidak ada kata handuk dalam makalahnya, sebagaimana tidak ada teori ekonomi yang ingin dianalogikan dengan cara melempar handuk. Diantara ketertegunan semua peserta ceramahnya, kemudian ekonom itu menjelaskan pesannya yang mungkin memang harus disampaikan dengan eksentrik: jangan takut berbuat drastis. Entah ada kaitannya atau tidak, 5 tahun kemudian ketika ia menulis pengantar buku The General Theory of Employment, Interest and Money, John Maynard Keynes menyatakan bahwa yang paling sulit bukanlah melahirkan ide baru, tetapi bagaimana meninggalkan ide-ide masa lalu. Ide-ide masa lalu yang biasa direnung di ruang sejarah yang jauh dari hiruk-pikuk kekinian, memang selalu menjadi lebih manis dan indah ketika masa sekarang tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan. Kenangan akan kejayaan masa silam itulah, yang tanpa disadari sering melemahkan tekad untuk menjadi individu yang visioner, yang selalu menempatkan sejarah sebagaimana mestinya; sebagai link to our past and a bridge to our future. Bukankah sejarah memang didokumentasikan untuk menjadi titik awal dari sebuah garis yang menghubungkan masa sekarang dengan masa depan?  

Seperti yang sudah disadari; masa lalu, masa sekarang dan masa depan memang tidak berada dalam satu koridor yang lurus, halus dan mulus. Setidaknya, para pembaca buku “MANAGING CHAOS AND COMPLEXITY IN GOVERNMENT: A NEW PARADIGM FOR MANAGING CHANGE, INNOVATION, AND ORGANIZATIONAL RENEWAL” akan setuju. Pada review buku itu, disebutkan bahwa “......in today's unpredictable world of shrinking budgets, demands for better service, and greater accountability, playing by the old rules just doesn't make sense. In this book, L. Douglas Kiel presents a framework that addresses the new chaotic reality of public management and the need for responsive change and innovation.....”Chaos? Bukankah kata itu berarti kerusuhan? Benarkah ada “kerusuhan” dalam pengelolaan layanan publik di lokasi yang menjadi obyek penulisan buku itu? jika memang benar, mungkinkah kondisi itu akan menimpa kita juga?

Dalam buku yang berbeda, saya mendapatkan kesan bahwa sebuah sistem seringkali memerlukan iregularitas untuk mencapai puncak performanya, atau untuk mengadaptasi dirinya dalam rangka pembaruan sistem itu sendiri. Iregularitas inilah, yang kerap dikenali sebagai Chaos. Jadi, Chaos (bagaimana jika kita sebut iregularitas saja, untuk meninggalkan euphoria-nya?) tidak semata-mata berarti kerusuhan,walaupun hampir selalu bisa diidentikkan dengan ketidakwajaran. Tapi bukankah kita sudah merasa wajar dengan ketidakwajaran? Jika ya adalah jawaban anda, bukankah ini berarti bahwa iregularitas adalah fenomena yang wajar saja?

Wajar atau tidak, iregularitas akan diasumsikan sebagai pengganggu kelurusan garis yang menghubungkan masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Natural atau tidak, iregularitas akan memisah tegas pro dan kontra, sekaligus membuyarkan arah para penganut “wait and see” . Menguntungkan atau tidak, iregularitas akan lebih indah untuk tidak dilihat pada wujudnya sendiri. Karena keindahannya akan terbentang setelah iregularitas itu berhasil menunjukkan kepada sang sistem; jalan menuju puncak performanya.

Bukankah nusantara mampu mewujud setelah kecamuk perang yang dikibarkan Gajahmada? Bukankah pelangi mampu melarik setelah hujan menumpah-ruah tanah? Bukankah lembar-lembar daging di pesta barbeque mampu menggugah setelah bongkah-bongkah bara ditiupkan ke arahnya?