BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

Demi Waktu

01/01/2009 7:22:57

Dan demi waktu, yang bergulir di sampingmu
Berat rasa hatiku tuk meninggalkanmu..
 
Demi Waktu, UNGU BAND

46 tahun sebelum masehi yang lalu, jika Julius Caesar menunjuk beberapa orang untuk memainkan gitar, keyboard dan drum, mungkin kita akan menemukan manuskrip berisikan lirik lagu itu berikut komposisinya di reruntuhan peradaban Romawi yang mencengangkan itu. Tapi, Julius Caesar memilih menghormati waktu dengan menunjuk Sosigenes untuk membuat kalender karena keperluan atas sebuah penanda untuk mengontrol wilayah kekuasaan Roma yang amat luas. Keperluan atas sebuah penanda itu juga dirasakan oleh Khalifah Abubakar, dengan merumuskan penanggalan Islam yang menjadikan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad sebagai awal tahun.

Ratusan tahun kemudian, evolusi kebudayaan manusia yang agung ini menyalakan petasan dan kembang api sebagai penanda waktu bergantinya tahun. Dangkal, hectic atau foya-foya mungkin akan dituduhkan pada perilaku sang kebudayaan ini. Tetapi -apapun bentuknya- kita tetap memerlukan sebuah penanda sebagai representasi kesadaran akan waktu, karena kesadaran inilah yang akan membuat kita maklum pada proses tumbuhnya banyak cita-cita baru dalam sebuah organisasi, dimana secara natural proses pertumbuhan cita-cita baru ini akan berbanding lurus dengan lenyapnya banyak keniscayaan lama. Perubahan ini seringkali membuat anggota organisasi yang sudah nyaman bekerja menjadi bingung menghadapi kondisi-kondisi baru dalam kehidupan berorganisasi mereka.
 
Jadi, apakah perubahan ini sebuah destruksi? Tidak.
 
Dalam sebuah organisasi, perubahan tidak harus berjalan beriringan dengan zona nyaman para anggotanya. Perubahan justru harus menemukan tempatnya dalam zona nyaman itu, sehingga organisasi tidak dilenakan oleh kejayaannya saat ini dan segera bergegas mempertinggi standar kenyamanannya berikut memperluas sebaran kenyamanan itu ke seluruh penjuru negeri.
Perubahan ini justru sebuah konstruksi untuk penguatan sistem berpikir anggota organisasi agar tidak mudah terseret oleh arus pembiasan informasi yang seringkali terbangun dalam semangat bergunjing, atau bahkan dalam kerangka yang lebih fokus lagi; character assassination.
 
Demi waktu, apakah kita mempunyai cukup waktu untuk sekedar bergunjing? Tidakkah akan lebih baik jika waktu dipergunakan untuk mengkomunikasikan segala detil perubahan itu ke segala penjuru organisasi agar proses adaptasi bisa berjalan lebih mulus? Bukankah adaptasi itu layak untuk diperjuangkan dalam waktu sesingkat-singkatnya, mengingat para stakeholder kita sudah gelisah menunggu kapan giliran keinginan mereka diadaptasi?


 
Selamat Tahun Baru, Selamat Berubah.