BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

DISKUSI UNTUK NEGERI

24/02/2010 14:10:14

7 Nopember 1962, di sebuah rumah di Manhattan, semua mata tampak berkaca. Terbaring dingin di salah satu ruangannya, Anna Eleanor Roosevelt yang telah berpulang. Adlai Stevenson, seorang duta Perserikatan Bangsa Bangsa, tanpa hiperbola berkata “..a cherished friend of all mankind is gone”. Pada pemakamannya yang dihadiri oleh Dwight D. Eisenhower, Harry S. Truman dan John F. Kennedy, kembali Adlai Stevenson menyatakan rasa hormatnya dengan berkata bahwa mendiang Anna Eleanor Roosevelt adalah seseorang yang memilih untuk menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Mungkin, saat itu terbayang di mata Adlai Stevenson diskusi-diskusi sengit yang digelar oleh mendiang ketika menjadi delegasi di PBB atas penunjukan Presiden Harry S. Truman dan persetujuan United States Senate, ketika memperjuangkan disetujuinya United Nation Universal Declaration of Human Rights bersama RenĂ© Cassin, John Peters Humphrey dan beberapa kolega lainnya.
 
Semasa hidupnya, mendiang memang menghidupi banyak diskusi. Mendiang bahkan menulis kolom “My Day” di sebuah koran untuk selalu memicu diskusi-diskusi baru. Dukungannya terhadap penyanyi berkulit hitam Marian Anderson yang ditolak untuk bernyanyi di Washington Constitution Hall atau keputusannya untuk “menyajikan” hotdog untuk King George VI dan Queen Elizabeth (pemimpin monarki Inggris pertama yang secara resmi mengunjungi Amerika) ketika berjalan-jalan di Hyde Park, memang sangat memicu perdebatan yang kemudian dengan sangat elegan ia letakkan di tempat yang berbeda dan ia transformasikan menjadi diskusi-diskusi.

Ya, diskusi memang harus diletakkan di tempat yang berbeda dengan berdebat, dalam konteks perdebatan emosional yang seringkali susah berhenti, atau juga tanpa isi. Diskusi –dengan atau tanpa dorongan dari mendiang Anna Eleanor Roosevelt- memang seharusnya diamini sebagai tradisi. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan bahwa sebuah gerakan besar selalu diawali dengan olok-olok massal, kemudian diproses dengan diskusi-diskusi yang pada akumulasinya akan membuat orang mengerti dan akhirnya diadopsi menjadi gerakan-gerakan yang menggetarkan peradaban.

Diskusi juga harus diperlakukan sebagai wadah besar yang selalu mampu diisi dan disegarkan dengan ide-ide, semangat berbagi pengetahuan, niat baik untuk berbagi cara pandang dan kemauan kuat untuk mengimplementasikan. Diskusi tentang apapun, dilakukan dimanapun atau dilakukan oleh siapapun.

Apalagi jika diskusi dilakukan dengan ide mulia untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Bukankah ide-ide mulia selalu direstui oleh-Nya? Dan atas restu tersebut, bukankah mendiskusikan dengan niat untuk melaksanakan akan memuliakan kita semua?

Ya, kita semua. Tak peduli siapa, tak peduli dimana, tak peduli dalam forum apa. Seperti yang pernah dikatakan oleh mendiang Eleanor Roosevelt: great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.
 
Selamat berdiskusi, Great Minds.