BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Logo Badan Pertanahan Nasional RI
HomePeraturanPengadaanBPN MailPeta OnlineSearchSite MapLogin







KELEMBAGAAN
Tentang BPN
Rencana Strategis BPN
Unit Eselon I
Unit Eselon II
Website Daerah
Kontak
LAYANAN
Layanan Pertanahan
Layanan PPAT
Informasi Berkas
Sistem Informasi Eksekutif
Peta Online
BERITA & ARTIKEL
Berita
Artikel
INTERAKTIF
Pengaduan Masyarakat

Aku dan Laparku : Sebuah Monolog

31/08/2009 10:39:54

Semangkuk soto dengan sedikit perasan jeruk nipis, ayam goreng, tempe goreng dan teh manis mengguncang khayalanku. Aku sudah melupakan betapa sia-sia puasa ini jika dihabiskan dengan meratapi kelaparan. Untuk beberapa saat, kubiarkan diriku tergolek lunglai tanpa harga diri karena tak mampu melawan imaji soto yang begitu menggoda. Otak yang memang kuhemat pergerakannya sejak saat imsak, akhirnya terbangun juga karena dilema soto ini. Ia kemudian menyampaikan data tubuhku yang masih berlebih karbohidrat, protein, lemak dan sejenisnya. Aku menolak laporannya dan meneriakkan fakta bahwa –entah bagaimana- aku lapar.

Lapar? demikian otak mengkonfirmasi teriakanku dengan intonasi sarat sinisme. Kemudian sebelum sempat kusadari, otak sudah memerintah mata hatiku untuk melihat orang-orang yang sepanjang tahun merasa lapar dan mensyukuri datangnya ramadhan, karena pada bulan ini banyak orang menjadi suci dan tergerak untuk berbagi sebungkus nasi dan segelas kolak di saat buka puasa. Pada bulan ini pula, mereka merasakan kesetaraan atas kesamaan bahwa dari saat imsak sampai maghrib; semua merasa lapar. Otakku bahkan mendesak mata hatiku untuk menyentakkan informasi bahwa kelaparan justru banyak diderita oleh para pekerja pengolahan tanah, dimana dari hasil olahannya itu bisa terhidang soto panas, ayam goreng, tempe goreng dan teh manis khayalanku.

Nafsu makanku seketika berubah menjadi kebingungan. Bukankah di pundak para pekerja pengolahan tanah itu kusandarkan jaminan rasa kenyangku? Begitu muliakah mereka, sehingga rela merasa lapar agar aku bisa bebas mengumbar nafsu makanku? Tiba-tiba, aku merasa senyap. Tiba-tiba aku merasa terasing, karena tak mampu mengerti mengapa orang-orang yang telah memberiku rasa kenyang ternyata hidup dalam rasa lapar. Otakku terlihat sibuk membuka lembar-lembar memorinya untuk segera menjawab kebingunganku. Beberapa saat kemudian, ia menyodorkan pernyataan Graham Dyer, bahwa salah satu penyebab kemunduran pengolahan tanah yang berujung pada kemiskinan dan berefek langsung pada kelaparan adalah dominance of tenant farming and an incomplete transformation of poor peasants into wage labourers.

Selain karena rendahnya kemampuanku berbahasa inggris, sengaja tidak kuterjemahkan kalimat itu dalam bahasa Indonesia agar otakku mengira bahwa kondisi yang digambarkan mister Dyer itu tidak terjadi di Indonesia. Tapi (sekali lagi) otakku berontak. Ia menolak keras tawaranku untuk tak usah memikirkannya dan segera kembali mengkhayalkan toge, suwiran daging serta irisan daun seledri yang berenang-renang dalam panasnya kuah soto. Otakku marah. Ia tujukan seluruh energinya kearahku, untuk mengatakan bahwa ia malu menjadi bagian dari diriku.

Akupun tertunduk malu. Aku tertunduk semakin dalam ketika sadar bahwa aku baru bisa memikirkan orang lain setelah dipaksa merasakan yang mereka rasakan : kelaparan. Dalam rasa malu itu, samar-samar kuingat kata-kata Gandhi yang menyatakan bahwa ada orang yang sedemikian laparnya sehingga tidak mampu melihat Tuhan, kecuali Dia tampil dalam bentuk roti.

Mungkin, Gandhi benar. Tapi bukankah rasa lapar juga yang memicu mata hatiku untuk menyentakkan fakta bahwa masih sangat banyak saudara-saudaraku yang mengalami periode lapar melebihi waktu puasaku? Justru rasa kenyang yang selama ini menghalangi penglihatanku atas rasa lapar saudara-saudaraku: sebuah ketidaksensitifan terhadap sesama yang jelas-jelas tidak disukai oleh Tuhan. Jadi, rasanya ada juga orang yang sedemikian kenyangnya sehingga tidak mampu melihat Tuhan...

 
Selamat datang, rasa lapar.
Semoga setelah bulan ini kami sama-sama merasa lapar, bulan-bulan berikutnya kami sama-sama bisa merasa kenyang.