Agustus
04/08/2009 17:05:35
Agustus, bulan yang riang. Nyala merah dan bersihnya putih akan menjadi atap negeri ini. Sudah terbayang para orang tua tertawa riang menyaksikan anak-anaknya berlomba makan kerupuk, anak-anak terpingkal-pingkal melihat ayahnya memakai daster ibunya sebagai kostum pertandingan sepakbola, para ibu berkumpul di rumah bu RT untuk memasak konsumsi dan para remaja sibuk menyiapkan panggung hiburan berhiaskan merah dan putih. Keriangan yang sempurna. Di malam menjelang tanggal 17, semua keriangan itu akan luruh dalam rasa syukur kita kepada Tuhan atas keberanian yang sudah dianugerahkan pada para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini, dengan mempertentangkan batang-batang bambu runcing dengan pistol, bedil, mitraliur atau bahkan howitzer. Pagi harinya, negeri ini akan menghening cipta, membubungkan sukmanya demi meraih semangat-semangat yang menyebar dari lembar naskah proklamasi, untuk kemudian serentak berteriak “MERDEKA!!”. Beberapa jam sesudahnya, negeri ini akan kembali tersenyum lebar untuk kemegahan lain yang sudah menanti : Karnaval. Anak-anak berkostum pejuang atau bersepeda hias, para pelajar mempersembahkan piala-piala atas prestasinya, para petani mempersembahkan panennya, para tentara mempersembahkan kegagahannya, para pejabat menyapa rakyatnya dan para pedagang memberikan potongan harga untuk dagangannya. Mungkin, di hari itu kita bisa mendebat Jean-Jacques Rousseau yang membagi kedaulatan hanya menjadi de facto dan de jure. Karena di hari itu, yang berdaulat adalah senyum lebar negeri ini.
Ah, betapa bunda pertiwi merindukan senyuman itu…
Dan betapa kita merindukan senyum bunda pertiwi. Senyum yang tak hanya mempersatukan negeri ini atas berbagai perbedaannya, tapi juga memikat negara-negara sahabat sejak dulu kala. Tahun 1944, seorang mufti Palestina menyatakan selamat melalui sebuah radio di Berlin setelah Jepang “mengakui” kemerdekaan Indonesia. Tahun 1945, sholat ghaib dilakukan di banyak lapangan dan masjid di Timur Tengah untuk warga Surabaya yang gugur pada serangan 10 November 1945. Tahun 1947, terjadi sabotase di pelabuhan Mesir atas kapal pengangkut serdadu dan senjata “Volendam” milik Belanda oleh sahabat-sahabat Mesir kita (sahabat-sahabat kita mengejar dan menghalau motor-motor boat yang akan mensuplai air dan makanan untuk kapal tersebut dengan mengendarai puluhan motor boat berbendera merah putih sebagai tanda solidaritas terhadap perjuangan kita). Wartawan “Al-Balagh” pada 10 Agustus 1947 melaporkan bahwa “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas dek-nya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor boat besar itu ke jurusan lain.” Melompat ke tahun 1960, para penonton film “Never On Sunday” di sebuah gedung film di New York resah karena terpaksa menunggu seorang tamu kehormatan yang juga ingin menonton. Ketika sang tamu kehormatan datang, berdiri di balkon dan menyapa semua penonton, keresahan itu seketika buyar. Mereka berdiri bertepuk tangan bermenit-menit lamanya setelah tahu bahwa sang tamu adalah Bung Karno. Melompat lebih jauh ke tahun 2009, Tan Boon Kean, editor mingguan bisnis Singapura “THE EDGE” melukiskan kegemaran Barrack Obama akan nasi goreng, bakso dan rambutan dengan kalimat, ”if the leader of world’s superpower likes your local cuisine, what more could you ask for?” sebagai penutup dari artikel yang ia beri judul “IT’S INDONESIA’S TIME!”
Ah, betapa kita rindu berbagi cerita-cerita penggugah semangat seperti itu. Betapa hati kita rindu berpelukan dengan hati lain yang menggelorakan semangat yang sama. Betapa keringat kita rindu untuk menetes bersama dari bahu-bahu yang beradu tanpa syak wasangka.
Dan betapa ingin kita berbisik meyakinkan Bunda Pertiwi, bahwa keriangan agustus ini adalah tanda cinta untuknya..