BERKAT DOA IBU DAN GARIS TANGAN TUHAN

Sosok Menteri Sofyan Djalil

Where there's a will there's a way berulangkali disampaikan Sofyan Djalil yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang.

Pepatah lama itu memang yang paling mewakili perjalanan hidupnya hingga pernah memimpin lima kementerian di negara ini.

Sofyan yang mengklaim lahir dari keluarga sederhana sangat mempercayai hanya garis tangan dan doa ibunya yang mengantar dirinya kepada kesuksesan saat ini. Dirinya tidak pernah menyangka akan menempati posisi penting di Indonesia, karena sempat mengalami kehidupan yang berliku.

Perjalanan hidupnya dimulai ketika Sofyan merasa kecewa tidak lulus tes pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) saat menjadi guru agama. Sofyan muda ketika itu merasa memiliki kemampuan lebih baik dibandingkan dengan ketiga rekannya yang justru lolos ujian dan diangkat menjadi PNS.

"Saya adalah salah satu lulusan terbaik Pendidikan Guru Agama [PGA], dan kenapa tiga orang teman saya yang menyontek dari saya lulus diangkat menjadi PNS, sedangkan saya tidak," katanya saat menyambangi Bisnis Indonesia.

Kekecewaan itu kemudian membawanya menjadi buruh di pabrik karet yang baru dibuka oleh salah seorang kenalannya. Tidak betah berlama-lama menjadi buruh pabrik karet, Sofyan pun pamit kepada ibunya untuk mengikuti Muktamar Pelajar Islam Indonesia (PU) di Jakarta.

Meski sempat khawatir karena tidak memiliki kerabat di Jakarta, Sofyan berhasil meyakinkan ibunya untuk memberikan restu dirinya berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Sofyan pun harus kembali berjuang keras untuk menjalani keseharian hidupnya.

Dirinya selama setahun tidak memiliki pekerjaan dan hanya tidur di Masjid Menteng Raya. Sofyan bahkan juga mengaku harus menjual sebagian besar pakaian dan barang miliknya di Pasar Rumput, agar dapat menyambung hidup.

"Meski tidur di Masjid, saya setiap malam minggu ikut diskusi di Gedung Joeang bersama para tokoh negara. Jadi secara fisik saya
homeless, tapi pemikiran saya itu sudah memikirkan negara," ujarnya.

LOLOS SELEKSI

Tidak betah terus menerus menjadi pengangguran, Sofyan pun akhirnya mendatangi salah seorang pegawai Kejaksaan Agung yang berasal dari Aceh. Dari situ dirinya mendapat informasi adanya lowongan pekerjaan di Kejaksaan Agung dan berhasil lolos seleksi.

"Pekerjaannya sama juga menjaga masjid, dan menjadi rohaniawan saat ada pelantikan pejabat baru," kenangnya.

Waktu senggang yang dimiliki Sofyan saat bekerja di Kejaksaan Agung pun dimanfaatkan untuk ikut tes masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan lolos. Setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sofyan kemudian menikah dengan Ratna Mega wangi.

Tidak berhenti di situ, setelah menikah Sofyan pun keluar dari Kejaksaan Agung dan kembali menganggur. Kesehariannya diisi dengan membuat yoghurt dan menjualnya ke sejumlah warung di dekat rumahnya.

Seakan keberuntungannya tidak pernah habis, Sofyan kemudian diterima bekerja di Centre for Policy and Implementation Studies (CPIS) yang bekerja sama dengan Harvard University.

Kemampuan bahasa inggris yang diperolehnya dari kursus saat menjadi pegawai Kejaksaan Agung menjadi bekal Sofyan untuk terus berkembang.

"Saya keluar Kejaksaan Agung itu gaji terakhir Rp42.000 per bulan, begitu masuk CPIS, karena bekerja dengan orang asing, gaji saya menjadi US$1.000 per bulan," katanya.

Setahun berselang, Sofyan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Serangkaian ujian untuk dapat diterima di universitas yang ada di Amerika Serikat pun memberikan pengalaman tersendiri bagi dirinya.

Sofyan mengaku baru mengetahui minus jika dikalikan minus, hasilnya adalah plus pada saat berusia 32 tahun. Selama ini dirinya memang tidak pernah mempelajari matematika, karena pendidikan yang ditempuhnya adalah PGA dan Fakultas Hukum.

Nasib baiknya pun terus membawa dirinya hingga meraih gelar Master of Arts dari The Graduate School of Arts and Sciences, Tufts University.

Adapun Master of Arts in Law and Diplomacy dari The Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University. Gelar Doctor of Philospohy juga diraih dari kampus yang sama.

Selepas kuliah, Sofyan kemudian mengajar di Universitas Indonesia, dan menempati sejumlah jabatan publik, mulai dari tim mediasi perundingan Pemerintah Indonesia dengan GAM di Helsinki, anggota Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Govemance, komisaris di sejumlah perusahaan, hingga menteri.

Setidaknya lima kementerian yang pernah dipimpin Sofyan saat ini, yaitu Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

Sofyan pun kembali menegaskan apapun bisa dicapai jika ada kemauan keras untuk menggapainya. "Jadi Where there's a will there's a way. Sampai sekarang kalau ditanya apa yang bisa membuat saya seperti ini, saya hanya jawab garis tangan yang diberikan Tuhan dan doa ibu saya," ujarnya.