2025, Ditarget Semua Tanah Sudah Bersertifikat

Kedaulatan Rakyat, Halaman 9 | Rabu, 22 Februari 2017

YOGYA (KR) - Selama hampir 72 tahun kemerdekaan Indonesia, baru 40,79% tanah yang terdaftar, itupun di luar kawasan hutan. Sedangkan tanah yang terpetakan baru 24.157.000 bidang tanah atau 22,28%.

Direktur Jenderal Infrastniktur Keagrariaan Ir BM Adi Darmawan MEngSc mengatakan, Indonesia perlu mempercepat pemetaan data geospasial dan legalisasi (sertifikasi) tanah. Menurutnya, dengan berbasis data geospasial yang valid dan up to date, pembangtman akan menjadi jelas arahnya, transparan, harmonis dan menumbuhkan peiekonomian.

"Pemerintah menargetkan 'Indonesia Terpetakan' dalam waktu kurang Bari 10 tahun," terang Adi saat menyampaikan pidato ilmiah bertema 'Akselerasi Pembangunan Infrastruktur Keagrariaan Menuju Indonesia Terpetakan' dalam rangka peringatan ke-71 Hari Pendidikan Tinggi Teknik di Gedung KPTU Fakultas Teknik UGM, Selasa (21/2).

Dikatakan, pemerintah melalui Kementerian ATR/BPN menargetkan 5 juta bidang tanah disertifikatkan tahun 2017 ini. Kemudian 7 juta bidang tanah pada tahun 2018: 9 juta bidang pada tahun 2019 dan 10 juta bidang pada tahun 2020. Percepatan legalisasi aset ini menargetkan sekitar 63.193.000 bidang tanah, yang pada akhirnya akan mewujudkan selurah bidang tanah telah terdaftar bersertifikat) pada tahun 2025. "Ini target yang sangat tinggi, tapi bukan tidak mungkin dicapai," ujar Adi.

Untuk mendukung program akselerasi pembangunan infrastruktur keagrariaan yang ada di Kementerian ATR/BPN, diperlukan komponen-komponen pendukung, antara lain kuantitas dan kualitas SDM. Untuk menyelesaikan pemetaan 5 juta bidang tanah tahun 2017 ini, direncanakan rekrutmen dari lulusan SMK sebanyak 1.402 orang, lulusan Prodi Geodesi sebanyak 250 orang dan Surveyor Kadaster berlisensi sebanyak 3.000 orang.

Komponen pendukung lain adalah sarana dan prasarana terutama ketersediaan Peta Dasar atau Base Map. Selain itu, metode pengukuran juga harus disederhanakan. Menurut Adi, seiring perkembangan teknologi penginderaan jauh/fotogrametri, proses pengukuran dan pemetaan bidang tanah dilakukan tidak hanya secara terestris tetapi juga mengoptimalkan metode fotogrametris. (Dev)-o